Opini

Menata Karakter Milenial Kota Kendari, Antara Harapan dan Ilusi

OPINI

Opini – Dewasa ini berbagai masalah kehidupan semakin kompleks, tak terkecuali kalangan milenial. Ya, itulah julukan bagi pemuda saat ini adalah mereka kaum milenial. Permasalahan mulai dari pergaulan bebas, seks bebas, narkoba, kekerasan seksual, pornografi, kriminalitas, dan lain sebagainya. Seolah tidak ada habisnya melanda kaum milenial di negeri ini. Membuat para pemangku kebijakan harus putar otak dan melahirkan berbagai kebijakan untuk mengatasi kompleksnya permasalahan tersebut.

Pemerintah kota Kendari pun memiliki perhatian besar terhadap kalangan milenial. Walikota Kendari, Sulkarnain Kadir mengungkapkan bahwa sebagai generasi pelanjut, kaum milenial harus dipersiapkan. Tidak hanya dibekali pengetahuan, namun mental dan karakter harus digembleng. Dengan begitu, mereka bisa menyusun rencana masa depannya.

Maka salah satu langkah untuk merealisasikan cita-cita tersebut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memunculkan program GenRe alias Generasi Berencana. Program ini bertujuan untuk mengedukasi dan memberikan informasi kepada remaja Indonesia agar menjadi generasi yang punya perencanaan kehidupan yang matang. Lebih lanjut saat mengukuhkan forum Generasi Berencana (GenRe) Kota Kendari periode 2020 – 2022 di Hotel Claro Kendari Walikota Kendari menyatakan bahwa “Di GenRe, para remaja diarahkan menjadi remaja tangguh dan dapat berkontribusi dalam pembangunan. Mereka juga akan dibekali cara menyusun masa depan mulai pendidikan, karier, pekerjaan dan menikah sehingga terhindar dari pernikahan dini, seks pra nikah serta narkotika, psikotropika dan zat-zat adiktif (NAPZA)” (kendaripos.co.id/14/11/20).

GenRe Menata Karakter Milenial?

Melalui BKKBN pemerintah melakukan gebrakan program yang menyasar remaja yakni membentuk forum GenRe. Namun, melihat perkembangan berbagai program yang dilakukan selama ini belum cukup mampu menekan munculnya berbagai permasalahan di kalangan milenial. Kemudian kita diberi harapan perbaikan karakter dan masa depan dengan adanya forum GenRe ini. Mampukah forum GenRe mengemban tugas dan mencapai tujuannya? Mengingat problematika yang dialami kalangan milenial begitu sistemik dan kompleks.
Misalnya saja fakta tentang pergaulan bebas yang berujung pada seks bebas, aborsi dan penularan penyakit HIV/AIDS. Di kota Kendari kasus aborsi pernah terjadi pada 11 Agustus 2019, seorang wanita berinisial M (34) warga Kelurahan Kadia Kota Kendari tewas bersama janinnya diduga karena keracunan obat penggugur kandungan yang diberikan oleh sang kekasih (rri.co.id/15/8/19). Melihat fakta tersebut, perbuatan aborsi selalu diawali dengan aktivitas pacaran. Aktivitas ini jelas bertentangan dengan syariat islam. Kemudian aktivitas yang menghantarkan kepada perzinahan ini pun tidak diatur dalam hukum Negara. Maka ketika para pelaku maksiat tersebut melakukan tindakan seperti aborsi, barulah Negara turut campur. Dalam hal ini menangani hanya pada kasus aborsinya, bukan mencegah aktivitas pacaran dan perzinahannya.

Negara lebih sibuk menangani korban aborsi ataupun penularan penyakit kelamin, termasuk HIV/AIDS di kalangan remaja. Alih-alih melarang pergaulan bebas di kalangan remaja, negara justru mengampanyekan bahaya pernikahan dini. Padahal prosentase kasus nikah dini amat rendah dibandingkan dengan perilaku pacaran dan seks bebas di kalangan pelajar. Negara mempersoalkan nikah dini yang sah secara hukum agama, sementara pacaran yang jelas mendekati zina justru dibiarkan.

Tentu fakta yang demikian, dapat merubah harapan untuk menata karakter dan masa depan kalangan milenial menjadi hanya sebuah ilusi yang tak akan terealisasi. Pun tidak ada jaminan 100% program GenRe ini menyentuh seluruh kaum milenial. Apalagi mereka yang sudah terlanjur terjerat dalam pergaulan bebas, narkoba dan sebagainya. Ditambah lagi melihat kondisi masyarakat kita yang semakin hedonis dan individualis kemudian abai terhadap control social, akan memperberat kerja pemerintah.

Semua ini terjadi tidak terlepas dari penerapan sistem sekularisme liberalisme. Dalam sistem ini agama tidak menjadi pondasi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Akibatnya generasi pun jauh dari nilai-nilai agama yang seharusnya menjadi pedoman mereka dalam berpikir dan berperilaku. Parahnya lagi, ketika kalangan muda mulai bangkit kesadarannya untuk kembali kepada kehidupan Islam, mereka malah dicurigai dan distigmatisasi sebagai intoleran, bahkan radikal.
Maka negeri ini tidak sekedar butuh gebrakan program untuk mengatasi permasalahan di kalangan milenial. Lebih dari itu, negeri ini butuh perubahan tatanan kehidupan secara sistemis, mengganti sistem sekularisme liberalisme yang berperan dalam pengrusakan karakter dan masa depan anak bangsa saat ini.

Solusi Islam

Remaja dengan julukan kaum milenial merupakan generasi penerus bagi generasi sebelumnya. Karena itu, Islam memberikan perhatian besar kepada mereka, bahkan sejak dini. Di masa lalu, banyak pemuda hebat, karena generasi sebelumnya adalah orang-orang hebat. mengutip artikel yang ditulis oleh Hafidz Abdurrahman (mediaumat.news/9/8/2017) sistem islam memberikan perhatian besar pada generasi muda ini dengan menerapkan syariat islam dalam seluruh lini kehidupan mulai dari keluarga, masyarakat sampai negara.

Pertama Pendidikan Usia Dini. Nabi SAW bersabda , “Muru auladakum bi as-shalati wa hum abna’ sab’in.” [Ajarkanlah kepada anak-anakmu shalat, ketika mereka berusia tujuh tahun]. Hadits ini sebenarnya tidak hanya menitahkan shalat, tetapi juga hukum syara’ yang lain. Karena shalat merupakan hukum yang paling menonjol, sehingga hukum inilah yang disebutkan. Selain itu, titah ini tidak berarti anak-anak kaum Muslim baru diajari shalat dan hukum syara’ yang lain ketika berusia tujuh tahun.

Kedua Kehidupan yang Bersih, Dengan bekal ilmu dan pembentukan mental yang sehat dan kuat, ditopang dengan pembentukan sikap dan nafsiyah yang mantap, kehidupan pemuda di era khilafah jauh dari hura-hura, dugem dan kehidupan hedonistik lainnya. Mereka tidak mengonsumsi miras, atau narkoba, baik sebagai dopping, pelarian atau sejenisnya. Karena ketika mereka mempunyai masalah, keyakinan mereka kepada Allah, qadha’ dan qadar, rizki, ajal, termasuk tawakal begitu luar biasa. Masalah apapun yang mereka hadapi bisa mereka pecahkan. Mereka pun jauh dari stres, apalagi menjamah miras dan narkoba untuk melarikan diri dari masalah.

Kehidupan pria dan wanita pun dipisah. Tidak ada ikhtilath, khalwat, menarik perhatian lawan jenis [tabarruj], apalagi pacaran hingga perzinaan. Selain berbagai pintu ke sana ditutup rapat, sanksi hukumnya pun tegas dan keras, sehingga membuat siapapun yang hendak melanggar akan berpikir ulang. Pendek kata, kehidupan sosial yang terjadi di tengah masyarakat benar-benar bersih. Kehormatan [izzah] pria dan wanita, serta kesucian hati [iffah] mereka pun terjaga. Semuanya itu, selain karena modal ilmu, ketakwaan, sikap dan nafsiyah mereka, juga sistem islam yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat oleh khilafah.

Karena kehidupan mereka seperti itu, maka produktivitas generasi muda di era khilafah ini pun luar biasa. Banyak karya ilmiah yang mereka hasilkan saat usia mereka masih muda. Begitu juga riset dan penemuan juga bisa mereka hasilkan ketika usia mereka masih sangat belia. Semuanya itu merupakan dampak dari kondusivitas kehidupan masyarakat di zamannya.

Ketiga Sibuk dalam Ketaatan. Ada ungkapan bijak, “Jika seseorang tidak menyibukkan diri dalam kebenaran, pasti sibuk dalam kebatilan.” Karena itu, selain kehidupan masyarakat yang bersih, berbagai tayangan, tontonan atau acara yang bisa menyibukkan masyarakat dalam kebatilan harus dihentikan. Mungkin awalnya mubah, tetapi lama-lama kemubahan tersebut melalaikan, bahkan menyibukkannya dalam kebatilan.

Semuanya ini memang membutuhkan negara dengan sistemnya yang luar biasa. Sejarah keemasan seperti ini pun hanya pernah terjadi dalam sistem khilafah yang menerapkan syariat islam secara kaffah, bukan yang lain.
Wallahu a’lam bisshowab

Penulis Opini. Waode Rachmawati, S.Pd.,M.Pd
(Aktivis Dakwah Muslimah Kota Kendari)

Back to top button
error: Copyright by sultranews.co.id