Motif Kain Tenun Khas Tolaki Dipamerkan di Malam Puncak HUT Konawe ke-63

waktu baca 2 menit
Dalam soft launxhing atau pameran kain tenun, dibuatkan dalam model busana gaun dan dikenakan oleh para peragawati asal Konawe dan melakukan catwalk di atas panggung hiburan HUT Konawe ke 63 tahun 2023. Foto Ist

KONAWE – Ada dua motif kain tenun yang dipameran pada malam puncak perayaan Hari Ulang tahun (HUT) Kabupaten Konawe yang ke 63 tahun, yakni kain tenun bermotif ‘Tawandawaro’ yang artinya Daun Sagu, serta kain tenun bermotif ‘Owato’ yang artinya Ulat Sagu.

Kedua motif kain tersebut merupakan khas Tolaki, yang diprakarsai oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), yang diketuai oleh Istri Bupati Konawe Titin Nurbaya Saranani Kery Saiful Konggoasa.

Dalam soft launxhing atau pameran kain tenun, dibuatkan dalam model busana gaun dan dikenakan oleh para peragawati asal Konawe dan melakukan catwalk di atas panggung hiburan HUT Konawe ke 63 tahun 2023.

Adapun para modelnya yakni finalis Putri Indonesia tahun 2014 Endang Mahari dan Finalis Putri Wisata 2022 bernama Egi.

Adapun kain tenun tersebut terdiri dari motif pine ona-ona yang berbentuk garis lurus sebagai simbol kejujuran, kain tenun motif Pintetobo, kain tenun motif ulat sagu sebagai simbol kesejahteraan, kesuburan dan kerja keras serta kain tenun motif daun sagu sebagai simbol representasi makanan pokok bagi masyarakat.

Ketua Dekranasda Konawe, Titin Nurbaya Saranani Kery Saiful Konggoasa mengatakan, pembuatan busana dengan desain daun dan ulat sagu ini merupakan salah satu upaya menjaga kearifan lokal di Konawe.

“Tidak bisa dipungkiri, kita ini masyarakat Konawe khususnya etnis asli Suku Tolaki, makanan pokok kita adalah ‘Sinonggi’, yang mana bahan bakunya dari Sagu,” kata Titin, sapaan akrabnya, saat dikonfirmasi melalui pesan whatsapp.

Istri Bupati Konawe yang juga merupakan Anggota DPRD Provinsi Sultra ini, juga menuturkan jika motivasinya tak lain adalah untuk menciptakan motif busana khas tolaki dari tanaman sagu, karena dirinya sangat peduli terhadap tanaman sagu yang kian berkurang dan bahkan bisa punah.

Baca Juga :  Soal Jalan Rusak Mataiwoi-Abuki, Begini Penjelasan Kadis PUPR Provinsi Sultra Pahri Yamsul

“Ini murni karya seni. Bukan pakaian adat ya? Ini kain tenun dengan motif kearifan lokal yang ada di daerah kita,” tegas Titin.

Dirinya berharap, dengan karya ini semoga dapat diterima oleh seluruh masyarakat Sultra, khususnya masyarakat Konawe.

“Kita bisa bangga menjadi masyarakat Kabupaten Konawe dengan segala kearifan lokal yang ada disini,” ujarnya.

Laporan: Jaspin