Musyawarah Kerja Adat Pusat Lembaga Adat Tolaki Sultra: Menggalang Persatuan dan Pelestarian Budaya
KOLAKA, SultraNews.co.id – Musyawarah Kerja Adat Pusat Lembaga Adat Tolaki (LAT) Sulawesi Tenggara (Sultra) telah berlangsung dengan sukses pada Kamis, 20 November 2025, di Hotel Sutan Raja Kolaka.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari acara pengukuhan pelantikan pengurus LAT periode 2019-2030.
Ketua Umum DPP LAT, Dr. H. Lukman Abunawas, S.H., M.S.I, M.H., menjelaskan bahwa musyawarah kerja ini bertujuan untuk membuat program-program jangka panjang, jangka pendek, dan jangka menengah.
“Kami ingin ada program yang jelas dan terarah, sehingga periode 5 tahun dari 2019-2030, ada kegiatan-kegiatan yang nampak,” ujarnya.
Musyawarah kerja ini dihadiri oleh pengurus pusat, Dewan Pakar, Dewan Penyantun, Dewan Pembina, Wakil-Wakil Ketua, Ketua-Ketua Departemen, Ketua-Ketua Biro, dan pengurus inti dari Dewan Pengurus Daerah.

Selain itu, juga hadir 37 ormas yang dilantik dalam acara ini, serta tokoh-tokoh adat dan masyarakat dari berbagai daerah di Sultra.
Dr. Lukman Abunawas menekankan pentingnya penguatan lembaga adat sesuai dengan Undang-Undang nomor 5 tahun 2013 tentang pemajuan budaya.
“Lembaga adat itu bagian dari kebudayaan, dan kita harus mengembangkan serta melestarikannya,” tegas Lukman sapaan akrabnya.
Sekjen DPP LAT Sultra, Dr. Basrin Melamba, S.Pd., MA, dalam wawancara dengan tim jurnalis SultraNews.co.id , mengungkapkan bahwa musyawarah kerja adat pusat telah menghasilkan program kerja dari seluruh 20 departemen, termasuk departemen organisasi kepemudaan dan ketamalakian.
“Musyawarah kerja adat pusat telah menghasilkan program kerja yang komprehensif dan strategis untuk meningkatkan kinerja dan memperkuat persatuan di kalangan masyarakat adat Tolaki,” kata Dr. Basrin Melamba.

Dr. Basrin Melamba juga mengungkapkan bahwa musyawarah kerja adat pusat telah membahas tentang identitas dan etnisitas suku Tolaki, termasuk dialek Tomekongga dan Tokonawe.
“Kita telah membahas tentang identitas dan entitas suku Tolaki, termasuk dialek Tomekongga dan Tokonawe,” ujar Dr. Basrin.
Musyawarah kerja adat pusat juga telah membahas tentang peradilan adat dan pembentukan peradilan Kalosara.
“Kita telah membahas tentang peradilan adat dan pembentukan peradilan Kalosara untuk menjawab tantangan yang dihadapi masyarakat adat Tolaki,” kata Dr. Basrin Melamba.

Dr. Basrin Melamba juga mengungkapkan bahwa musyawarah kerja adat pusat telah menghasilkan konsensus tentang konsep-konsep identitas orang Tolaki dan pentingnya mempertahankan nilai-nilai adat yang merupakan warisan dari leluhur.
“Harapannya kita dengan musawara kerja ini dapat memberikan sebuah penyadaran bagi kita sebagai orang Tolaki untuk selalu kita konsep yaitu medulu ronga mepokoaso,” pungkas Dr. Basrin Melamba yang akrab di sapa Basrin.
Laporan: Aby Razak



