EkonomiKonaweNewsPendidikan

Mau Jadi Petani Milenial? SMKN SPP Wawotobi Bisa Wujudkan Impianmu

KONAWE – Banyak dari masyarakat awam berasumsi jika “Petani Milenial” adalah orang yang bekerja di sawah, di kebun dan ladang.

Tapi mereka tidak berpikir jika saat ini, petani Milenial bukan zaman dulu lagi yang masih mengandalkan otot dibantu dengan alat tradisional seadanya.

Nach, petani-petani Milenial saat ini telah dibekali ilmu pengetahuan dan teknologi atau yang dikenal dengan Iptek.

Advertisement

Dewasa ini, anak-anak muda zaman sekarang mungkin masih gengsi dengan sebutan petani. Jangankan mau disebut sebagai petani, menuntut ilmu pun kemungkinan juga gengsi.

Tapi jangan salah, petani Milenial yang saat ini sedang tenar, justru terbilang sukses. Bahkan mereka mampu meraih rupiah hingga jutaan rupiah dibanding orang-orang yang masih gengsi.

Untuk itu, bagi kamu yang masih gengsi menjadi petani Milenial, ayo menuntut ilmu di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri atau yang dikenal dengan SMKN SPP Wawotobi, yang beralamat di Kelurahan Lalosabila, Kecamatan Wawotobi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Kabar gembiranya, saat ini SMKN SPP Wawotobi, kini membuka tiga jurusan yakni agrobisnis tanaman pangan, agrobisnis tanaman perkebunan dan agrobisnis ternak unggas,

Ketiga jurusan tersebut, masing-masing mempunyai ruang lingkup, dan keunggulannya.

Kepala sekolah SMKN SPP Wawotobi Ikhwal, S.TP., M.SC memaparkan, jurusan agrobisnis tanaman pangan ruang lingkupnya menghasilkan produksi seperti padi, jagung, kedelai, melon, semangka, tomat, dan lain sebagainya.

“Agrobisnis tanaman pangan ini mempunyai unit bisnis yang sangat luar biasa. Untuk jurusan ini banyak Siswa-siswi yang meminatinya dan terbukti sudah banyak yang berhasil,” ungkap Ikhwal, panggilan akrabnya.

Begitu juga dengan jurusan agrobisnis tanaman perkebunan juga mempunyai ruang lingkup berbeda. Agrobisnis tanaman perkebunan ini, kata Ikhwal mampu menghasilkan produksi berupa sawit, kopi, merica dan sebagainya.

Hanya saja, lanjut pria berkacamata itu, jurusan agrobisnis tanaman perkebunan siswa masih fokus pada pembibitan.

“Anak-anak sudah mampu menciptakan bibit unggul super. Bahkan kami sudah menjual bibit hasil budidaya siswa,” ucapnya.

Yang terkahir kata dia, jurusan agrobisnis ternak unggas. Menurutnya, agrobisnis ternak unggas juga ini terbilang berhasil dan menjanjikan.

“Baru-baru ini, siswa-siswi saya di jurusan ternak unggas ini sudah menjual jenis ayam potong Peribiotik, atau yang dikenal dengan sebutan ayam potong rasa ayam kampung dalam jumlah banyak,” ujar Magister UGM Yokyakarta ini.

Lebih jauh Ikhwal menjelaskan, ayam potong Peribiotik adalah merupakan ternak unggas yang tidak menggunakan vitamin atau makanan bahan kimia.

Menurut dia, ayam Peribiotik tersebut berbeda dengan ayam potong yang saat ini lagi tenar dipasaran umum. Bahkan ayam Peribiotik itu boleh dibilang sama dengan ayam kampung pada umumnya.

Hanya saja bedanya, dia lebih cepat besar dan waktu panennya hanya membutuhkan waktu sekitar 45 hari dengan berat berkisar 3 kilo gram per kilonya,” ujar Magister UGM Yogyakarta ini.

“Kemarin saja waktu lebaran, kurang lebih ada 800 ekor terjual. Hingga saat ini Alhamdulillah pelanggan kami sudah banyak,” ucapnya.

Nantinya, kata Ikhwal, ketika siswa siswi keluar dari sekolah tersebut, mereka (siswa) telah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang sudah siap kerja dan berwirausaha.

“Alhamdulillah anak-anak disini sudah punya skil. Mereka nantinya adalah calon-calon petani Milenial,” imbuhnya.

Ikhwal menambahkan, dengan adanya bantuan pembangunan mini market dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sultra, maka hasil produksi dari siswa-siswi kami, nantinya sudah bisa dijual di tempat tersebut.

“Alhamdulillah dengan adanya bantuan pembangunan mini market ini, anak-anak sudah bisa melakukan penjualan di tempat rersebut,” pungkasnya.

SN

Back to top button