KonawePeristiwa

Dua Kecamatan di Konut Diserbu Polusi Batu Bara PT OSS, Warga Resah

Konawe – Warga pada dua Kecamatan di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara (Sultra), diserbu polusi batu bara yang berasal dari pabrik PT Obsidian Stainless Steel (OSS).

Akibat dari polusi batu bara itu, sebagian besar warga yang tinggal dekat dengan pabrik PT OSS tekena dampaknya hingga mengancam gangguan saluran pernafasan.

Kondisi itu diperparah setelah batu bara yang terdapat di pabrik PT OSS diterbangkan oleh angin kencang hingga membentuk kepulan awan hitam.

Advertisement

Seperti dalam beberapa video yang berhasil direkam oleh Sultra News, terlihat debu batu bara beterbangan menyerupai badai terbawa angin dan menyerbu ke arah pemukiman warga.

Hal itu membuat warga setempat kawatir dan takut anak-anak mereka terancam jatuh sakit akibat diserbu polusi batu bara.

Seorang warga yang enggan disebutkan identitasnya mengatakan, polusi batu bara itu telah terjadi sejak awal Agustus 2020 lalu.

“Ada dua kecamatan yang terkena dampaknya disini, Kecamatan Motui dan Kecamatan Sawa.  Ini sudah terjadi berminggu-minggu,” tuturnya kepada Sultra News, Senin (31/8/2020).

Akibat lain dari polusi batu bara itu, warga sekitar mulai kawatir dan terpaksa harus menggunakan masker saat beraktivitas di rumah maupuan di luar.

“Yang kita takutkan, jangan menunggu ada yang jatuh sakit akibat adanya polusi itu. Pihak berwenang harus segera bertindak untuk mengatasi masalah polusi batu bara itu,” ucapnya.

Ketgam. Debu batu bara beterbangan ke pemukiman warga di PT OSS, Kecamatan, Morosi, Konawe, Sultra (Dok. Sultra News)

Hal serupa juga dialami oleh Rismanto, warga Desa Wawoluri, Kecamatan Motui yang terkena dampak polusi batu bara milik PT OSS.

Rismanto mengaku polusi batu bara itu telah terjadi sejak satu bulan terakhir yang menyerbu rumah warga. Akibat kondisi itu, ia dan keluarganya sangat resah dan masker harus melekat saat berada di dalam dan di luar rumah.

“Sudah ada mi satu bulan ini pak terjadi, terparah itu pada Minggu kemarin debu batu bara itu beterbangan dibawa angin kencang dan mengarah ke pemukikan warga. Sampai saat ini masih terjadi, bahkan kalau dilantai rumah itu melekat debunya,” tutur Rismanto kepada Sultra News, Selasa (1/9/2020).

Menurut informasi yang ia dapat, Rismanto menyebut telah ada warga yang mulai mengalami gangguan kesehatan seperti batuk, diduga akibat polusi batu bara dari PT OSS.

“Informasi yang saya dapat sudah ada yang mulai alami batuk-batuk sejak adanya polusi itu. Hal itulah yang kami kawatirkan jangan sampai kondisinya semakin parah,” paparnya.

Sementara itu, Deputy Branch Manager PT VDNI, Nanung Achmad Chairillah Wijdan, saat dikonfirmasi ia mengaku belum mengetahui adanya polusi batu bara tersebut.

“Sy belum dapat info nya mas. Ya sdh sy teruskan ke divisi lingkungan,” ujar Nanung saat kepada Sultra News pada Senin malam (31/8/2020). (SN)

Back to top button
error: Copyright by sultranews.co.id